ENAM KEISTIMEWAAN AL-QUR’AN


Dengan menyebut nama Alloh yang telah menganugerahi saya  nikmat iman, sehat serta akal pikiran sehingga membuat ide saya mewujud dalam tulisan yang karena keterbatasan saya masih jauh dari sempurna.

Segala puji syukur bagi Alloh karena saat tulisan ini dibuat, akhirnya saya selesai juga menyetor hafalan juz 30 ditambah Al-Waqi’ah. Hehe.. Kalau temen-temen yang lain sudah mulai merapal Al-Qolam, Al-Haqqoh dan bahkan ada yang hampir selesai dengan juz 29 nya, saya baru mulai dengan Al-Mulk..*shy*

Tapi tak apa, selama Alloh masih beri semangat menggebu, saya tak akan habis asa. Jadi tulisan inipun saya tulis sebagai wujud syukur karena Alloh tumbuhkan rasa cinta pada Al-Qur’an.

Bersumber dari beberapa kajian ilmu, maupun literatur yang pernah saya baca, setidaknya ada ENAM KEISTIMEWAAN Al-QUR’AN yang berhasil saya gali.

1. AL-QUR’AN DITURUNKAN OLEH ALLOH DAN LANGSUNG DIPELIHARA OLEH-NYA.

Tidak ada keraguan dari pada Al-Qur’an (Al-Baqarah :2) karena Alloh sendiri yang memeliharanya. Hal ini difirmankan Alloh dalam Surah Al-Hijr ayat 9, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

Salah satu cara Alloh menjaga Al-Qur’an adalah menjadikannya mudah dihafal sehingga saat ini ada ribuan Muslim di berbagai belahan dunia yang menjadi penghafal Al-Qur’an dan Hafidzul Qur’an.

Hafidzul Qur’an berarti penjaga Al-Qur’an. Mereka tak sekedar menjadi penghafal setiap lafadz Al-Qur’an, tetapi penjaga agar terhindar dari pemalsuan, penambahan, pengurangan ayat-ayatnya. Sebuah amanah dan prestasi besar tentunya. Merekalah tali-tali Alloh, karena melalui mereka, Alloh menjaga keaslian Al-Qur’an tetap terjaga. Jika ada satu ayat saja yang diubah, bisa dibayangkan para Hafidzul Qur’an ini tentu akan berontak.

2. KALAM AL-QUR’AN BEBAS DARI CAMPUR TANGAN MANUSIA, APALAGI SYETAN.

Untuk membuktikan keaslian Al-Qur’an, selain Alloh menjanjikan penjagaan atas Al-Qur’an adalah bahwa Al-Qur’an terjaga dari campur tangan manusia, apalagi syetan.

Dalam Al-Haqqoh ayat 41, “Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair.” Sedangkan dalam ayat 44 “Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami”.

Jika Muhammad sebagai Rosulullah saja dinyatakan Alloh tidak memiliki campur tangan atas Kalam Ilah ini, apalagi kita manusia biasa?

Bahkan Alloh memberi tantangan bagi siapa saja yang bisa membuat tandingan Al-Qur’an sebagaimana yang terfirman dalam Surat Al-Hijr ayat 9 “… Katakanlah (Muhammad): “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.”

Begitu juga dalam Surat Yunus ayat 37-38“Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah… Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Jelas bukan? Tak akan ada seorangpun termasuk Musailamah Al Kadzab yang mampu membuat tandingan Alqur’an, walaupun surat pendek seperti Al-Fiil yang coba dipalsu olehnya.

Selain itu, campur tangan syetan pun tak ada. Sebagaimana termaktub dalam At-Takwir ayat 25 “Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk”.

3. BERSIFAT PEMBENAR DARI KITAB-KITAB SEBELUMNYA

Hal ini dijabarkan Alloh dalam Surat Al-Maidah ayat 48 Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu”.

Dalam Surat Yunus ayat 37 juga dijabarkan, “Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” *Ya Alloh saya merinding*

dan juga ada dalam Surat Yusuf ayat 111 “Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

Ada juga dalam Surat Al-Ahqof ayat 12 “Dan sebelum Al Qur’an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang dzalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Artinya apa? Sudah  diketahui bersama bukan bahwa kitab sebelum Al-Qur’an adalah Zabur, Taurat dan juga Injil. Dan dari kesemua isi dalam kitab-kitab terdahulu tersebut, hal-hal yang dibenarkan oleh Alloh (baik aqidah, muamalah, tauhid) akan dituangkan lagi dalam Al-Qur’an untuk menjadi peringatan dan petunjuk manusia.

4. BERSIFAT NASAKH ATAU PENGHAPUS KETENTUAN DARI KITAB-KITAB SEBELUMNYA

Hal ini difirmankan Alloh dalam Surat Ar-Ra’du ayat 38- 39” … Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). Dalam Surat Al-Maidah ayat 48 juga disebutkan“…batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.”

Dengan kata lain, Alloh menghapuskan ketentuan yang dikehendaki dalam kitab sebelum Al-Qur’an di dalam Al-Qur’an.

5. DITURUNKAN DALAM BAHASA ARAB DAN BERULANG-ULANG

Al-Qur’an dituliskan dalam Bahasa Arab dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam beberapa ayat secara berulang-ulang, di antaranya QS 12:2, 13:37, 16:103, 20:113, 26:195, 39:28, 41:3, 43:3, 44:58 dan 17:89.

Dalam QS Taha (20:113) juga difirmankan Alloh,” Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.”

Sedangkan alasan Alloh mengulang beberapa ketentuan, perintah maupun larangan untuk menjadi penegasan dan menjadikan manusia berpikir atas peringatan tersebut.

Bahasa Arab dipilih oleh Allah karena merupakan bahasa manusia, dan karena Rosul adalah seorang Arab.

Dalam Surat Fushilat ayat 44 difirmankan Alloh “Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab?” Mengenai hal inipun, salah seorang guru saya pernah berpendapat bahwa Bahasa Arab adalah bahasa yang istimewa dimana satu kata, dengan jumlah orang yang melakukan, dan juga waktu kejadian berbeda memiliki kosa kata bahasa Arab yang berbeda juga. Selain itu, Beliau juga berpendapat bahwa kaum Arab cukup bagus dalam menghafal, maka bisa jadi itu menjadi salah satu alasan. Wallahu a’lam.

Mengenai bahasa Al-Qur’an, tidak hanya bahasa Arab biasa atau bahkan bahasa ‘ajam (Bahasa kasar yang digunakan Arab Badui) yang digunakan. Bahasanya istimewa. Maka dari itu, ada ilmu Nahwu dan Sharaf yang digunakan untuk mempelajari bahasa Al-Qur’an. Bahkan, perbedaan tanda baca setiap kata (fathah, kasroh, dhlommah, tanwin) bisa jadi memiliki arti kata yang berbeda.

Contoh istimewanya bahasa Al-Qur’an ini ada dalam ayat yang juga diulang-ulang dalam Al-Baqoroh: 34, Al-A’raf: 11, Al-Isra’: 61, Al-Kahf: 50, Taha: 116.

Coba deh, buka salah satu, misal Al-Baqoroh ayat 34. Termaktub “Waidzqulnaa lilmalaaikati sjuduu Liaadama fasajaduu illaa iblisa” yang artinya “Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat, ”Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis.” Di akhir kata “Iblis”, tanda baca (I’rab) nya adalah Manshub untuk Mufrad (Tunggal), yaitu fathah (a), padahal jika ia berdiri sendiri (tidak dalam kalimat), tanda baca mufrad adalah dlommah(u). Mengapa demikian?

Dalam ilmu nahwu, ketentuan ini disebut Mustatsna jenisnya Taam Manfiiy (ada 3 jenis Mustatsna). Al-Mutstasna adalah Ism Manshub yang berada setelah kata Illaa (Kecuali). Ism Mansubh tersebut adalah obyek pengecualian. Oiya ism artinya adalah kata benda. Sedangkan jenis Taam Manfiy digunakan untuk kalimat sempurna dan negatif. Hukum I’rob nya boleh memilih salah satu di antara dua:

a. Sesuai hukum asli Mustatsna. Dalam hal ini untuk Mufrad (Tunggal), yaitu fathah (a) atau;

b.Ikut Ism Minhu nya. Dalam hal ini adalah malaaikati yang punya I’rob Majrur untuk Mufrod, yaitu kasroh (i).

Akan tetapi yag dipilih adalah hukum ASLI mustatsna yaitu manshub, tidak mengikuti ism minhu-nya. Sehingga di ayat tersebut ditulis Iblisa, BUKAN Iblisi.

Dosen Nahwu di kelas saat itu, berpendapat, bahwa iblis dihukumi hukum asli mustatsna (manshub), dan tidak ikut ism minhu nya karena Iblis tidak dianggap satu golongan dengan malaikat. Iblis dianggap berbeda karena Iblis inkar, sedangkan malaikat taat kepada Alloh.

Subhanalloh.. perbedaan tanda baca ternyata mempunyai makna mendalam. Ini baru satu contoh. Tentunya masih banyaaaak lagi yang saya pun masih harus banyaaak belajar.

6. BERLAKU UNTUK SELURUH UMAT MANUSIA

Berbeda dengan Taurat yang berlaku untuk umat nabi Musa dan Harun saja, Kitab Zabur untuk kaum Nabi Daud, Al-Qur’an merupakan kitab yang berlaku untuk seluruh umat manusia. Sepanjang masa dan di belahan bumi manapun.

Hal ini dibuktikan dalam kalam Ilahi pada  Surat Al-Furqon ayat 1“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”.

Kira-kira itulah enam keistimewaan Al-Qur’an menurut pemikiran saya. Dan tentunya masih banyak lagi jika dikaji dan digali lebih dalam.

Yang jelas, Al-Qur’an adalah best book ever, yang ketika membacanya bisa menciptakan lompatan-lompatan dalam hati atau bahkan menangis haru. Maklum, penulis, editor nya adalah Alloh sendiri.

Wallahu a’lam bisshowab.

Kesempurnaan hanya milik Alloh. Kekurangan, keterbatasan adalah milik saya.

 *Tulisan ini saya persembahkan untuk sahabat terbaik yang selalu menginspirasi: Anis, Oryza, Bela, Reza, Asri, Rois, teman-teman Al-Manar serta banyak orang hebat di sekitar saya. Semoga Alloh selalu membersamai kalian dalam cinta-Nya. :* :*

Men(y)sendiri : Menjadi Diri Sendiri (?)


Menghabiskan akhir pekan dengan tidak jauh melangkah dari indekos terkadang membuat saya berpikir hal-hal di luar kebiasaan. Kali ini tetiba saya teringat dengan tantangan sang komandan yang pernah berujar, ”Kalau kau jago menulis, maka kau akan habiskan berlembar-lembar kertas kosong  dengan hanya satu tema. Coba lain kali kau tulis pikiranmu tentang “Menjadi Diri Sendiri sebanyak tidak kurang dari 2 halaman.”

Yak. Saya terprovokasi and here it is. Akhirnya saya tuliskan sebanyak yang saya bisa tentang menjadi diri sendiri. Untuk egoisme saya, dan beruntung jika untukmu berguna.

Menjadi diri sendiri. 3 suku kata yang klise terdengar dan biasa terucap oleh remaja yang beranjak dewasa agar terlihat lebih dewasa. Pun saya dulu mengalaminya ketika masa unyu-unyu itu datang. Masa dimana seseorang ingin menunjukkan eksistensi dengan mengunggulkan karakter dan kepribadiannya agar tak mau dicap bermental ikut-ikutan atau menjadi sekedar follower.

Menjadi diri sendiri

Saya mulai dengan kata pertama. Menjadi. Artinya membuat jadi. Awalan me- memberikan makna membuat. Sama hal nya dengan kata membentuk, membuat bentuk. Tapi jangan sekali-kali kamu menyamakan awalan me- pada menjadi dengan awalan serupa pada kata membabi buta. Karena akan jadi membuat jadi babi yang buta. Hehehe.. Yak. Setidaknya inilah yang pernah saya pelajari dulu di sekolah menengah pertama. Suatu pola tidak bisa berlaku untuk semua kondisi. Ada term dan condition yang mengikat (sudah laik ketentuan klaim garansi saja).

Diri sendiri. Menukil dari KBBI offline di gadget, artinya kurang lebih adalah hal yang istimewa, berdiri sendiri, berbeda dengan yang lain.

Lalu jika digabung, menjadi diri sendiri berarti membuat jadi diri sendiri, yang istimewa, berdiri sendiri dan berbeda dengan orang lain. Tentunya dalam hal karakter, kepribadian, sikap, tingkah lalu, perangai dan hal-hal lain yang segenus, eh sespesies dengan itu.

Barangkali yang saya dan mungkin kebanyakan darimu mengartikan, menjadi diri sendiri atau membuat jadi diri sendiri adalah berbuat, bertingkah laku berkata apa adanya, yang menggambarkan karakter dari diri sendiri. Tidak dibuat-buat. Alami. Tentu saja, original, tidak menjiplak orang lain. Maka dari itu menjadi diri sendiri membuat kita identic, berbeda dengan yang lain. Itulah yang lalu menmbuat menjadi diri sendiri itu berarti menjadi seorang yang istimewa.

Tetapi, benarkah diri sendiri itu identik, original dan tidak menjiplak orang lain? Bukankah sejak dilahirkan, menjadi bayi  hingga kita tumbuh besar semuanya berlalu tanpa terlewatkan dengan proses melihat, belajar lalu melakukan dan “meniru” apa yang kita lihat, dengar dan rasakan dari orang-orang sekitar kita?  Seorang bayi belajar cara memegang sendok, lalu memasukkan sendok berisi makanan ke dalam mulut, bukan ke hidung atau telinga, kemudian cara mengucap kata tertentu. Semuanya bisa dilakukan si bayi karena ia melihat ibunya mengajarinya. Walaupun tentu saya tak pungkiri beberapa ilmu laduni seperti menutup mata, mengeluarkan suara, tertawa dan lain lain memang telah Alloh turunkan ilmunya pada setiap jiwa yang ditiupi roh pada masa ke tiga dari tiap-tiap empat puluh hari.

Menjadi diri sendiri

Jika benar begitu, artinya proses penumbuhan karakter diri sendiri tak benar-benar murni dari diri sendiri dong ya. Karena proses pembentukan itu tumbuh dari kita melihat, berinteraksi dan bahkan mengutip atau meniru yang orang-orang sekitar kita lakukan. Orang tua, teman, saudara, guru, bintang figur atau bahkan karakter fiksi dalam tokoh cerita, novel, film bisa sangat berperan dalam proses penjadian diri kita.

Menjadi diri sendiri

“Tiga tahun lalu ketika masyarakat di negara saya mendapat penghargaan sebagai pengguna Blackberry terbanyak di dunia, saat RIM gencar-gencar nya mengekspansi dan mematikan pasaran Nokia, saya tetap bersikukuh memakai Flexi. Lalu android muncul dari berbagai perusahaan raksasa seperti Apple, Samsung, Sony dan beberapa branded dari Asia.  Orang-orang lalu beramai-ramai menggadaikan Blackberry nya dan menggantinya dengan Android. Sungguh tak pernah ketinggalan jaman dalam hal konsumerisme. Tapi saya tetap bertahan dengan selera saya sendiri. Tetap menggunakan flexi dengan tombol keypad yang mulai menghilang tulisan hurufnya. Bukan karena tak mampu beli. Kalau saya mau, Samsung Galaxi S5 atau iphone 5 pun mampu saya miliki. Tapi itu tak saya lakukan karena saya tidak ingin mengikuti selera pasar. Saya menjadi diri sendiri.”

“Ketika orang-orang memilih untuk turun ke jalan menggunakan kaos berlambang garuda merah di dadanya atau memakai kemeja kotak-kotak, saya lebih senang memilih warna putih dan bersantai di rumah. Saya tak mau ikut-ikutan membanjiri social media dengan menyebarkan kasus pelanggaran HAM tahun 1998, kasus tabrak lari anak pejabat atau menertawakan calon presiden boneka dan sikapnya yang “kurang gahar”. Tidak. Saya tak mau ikut keduanya. Saya menjadi diri sendiri. ”

“Saya ini orangnya memang pemarah. Kalau ada yang berani bikin ulah dengan saya atau menyalahi apa yang menjadi hak saya, jangan harap bisa berkawan dengan saya seumur hidupnya. Tak peduli apa yang orang katakan tentang saya. Saya orangnya ya memang seperti ini. Saya menjadi diri sendiri.”

“Saya orang plegmatis melankolis memang. Ingin hidup sederhana dan bahagia. Tidak ada masalah dengan siapapun. Mungkin memang benar kata si Fulan, kemarin lusa saya memang bersalah dengan si Fulanah. Esok saya akan minta maaf kepadanya. Tapi Si Fulani bilang saya yang benar, kalau minta maaf justru membuat saya tampak lemah. Dan si Fulano bilang, tak ada yang salah dengan keduanya, jadi tak usah menganggap ada apa-apa. Biasa saja. Lalu saya harus bagaimana? Aih.. Saya tidak menjadi diri sendiri.

Menjadi diri sendiri

Sebentar-sebentar. Jangan-jangan kata ini justru mengikuti pola pada kata mematung dan membatu dimana awalan me- berarti membuat seolah-olah seperti. Jika mengikuti pola ini, menjadi diri sendiri berarti membuat seolah-olah seperti diri sendiri. Atau dengan kata lain, menyengajakan seolah-olah begitulah dirinya sendiri. Jika seperti itu, lalu siapakah diri sendiri itu?

Aih. Ketika hendak mengakhiri tulisan tanpa konklusi ini, ingatan saya tentang sebuah buku berjudul “Menjadi Indonesia” memanggil. Buku yang sepertinya dicetak terbatas atau bahkan off published itu saya pinjam sejenak dari seorang kawan satu kereta dalam perjalanan pulang. Berisi kumpulan pemikiran tokoh-tokoh terkenal Indonesia seperti Dahlan Iskan, Emil Salim, Ayu Utami, Pandji Pragiwarkoso dan masih banyak lagi. Satu pesan yang saya ingat dikatakan oleh salah satu tokoh (yang saya lupa siapa) yang kurang lebih isinya, “Jika hendak Menjadi Indonesia berarti sebuah angan ke depan, lantas siapakah kita selama ini?”

Analogi yang sama namun bersifat lebih spesifik, “Jika hendak menjadi diri sendiri berarti sebuah angan ke depan, lantas siapakah kita selama ini?

Tabik!

Perang Hunain: Sebuah Kajian Siroh Nabawiyyah


hunain

gambar diambil dari sini

Sekilas

Prof. Muhammad Ridha menuliskan dalam buku Sirah Nabawiyyahnya bahwa Perang Hunain terjadi pada 10 Syawal 8H atau sekitar bulan Februari 630 M. Hunain adalah suatu Lembah di jalan menuju Thaif yang letaknya bersebelahan dengan Dzulmajaz. Jaraknya dari Makkah sejauh tiga hari perjalanan kaki. Perang Hunain disebut juga Perang Authas karena terjadi di Lembah Authas. Perang ini terjadi antara kaum Muslimin dan Kaum Hawazin yang bersatu dengan Kaum Tsaqif sehingga perang ini disebut juga Perang Hawazin. Perang ini disebut-sebut sebagai perang di masa Rosulullah dengan harta rampasan perang terbesar dan dengan jumlah bala tentara dari Kaum Muslimin yang banyak juga.

Penyebab Perang

Setelah kota Makkah sempurna ditaklukkan, orang-orang mulai berbondong-bondong masuk ke agama Allah, termasuk kaum Quraisy. Hal ini menyebabkan pembesar Hawazin dan Tsaqif merasa khawatir bahwa Rosulullah dan pengikutnya akan bergerak menyerbu mereka. Abul Hasan ‘Ali Al-Hasani an-Nadwi menulis dalam bukunya bahwa Kaum Hawazin adalah kekuatan terbesar setelah kaum Quraisy. Kaum Hawazin dan Quraisy saling berlomba dalam hal kekuatan. Hawazin tidak tunduk kepada sesuatu, yaitu Islam yang Quraisy telah takluk padanya. Hawazin ingin menjadi kekuatan yang utama dengan mencoba mencabut Islam dari akarnya.

            Kekhawatiran ini menyebabkan mereka bermaksud menyerang Rosulullah dan pengikutnya terlebih dahulu sebelum mereka diserang. Maka kemudian, di bawah pimpinan Malik bin Auf An-Nashary, salah seorang tokoh Hawazin, mereka menghimpun kekuatan dimana bergabung bersamanya seluruh Bani Tsaqif, Bani Nashr, Bani Jusyam, juga Said bin Bakr. Said bin Abi Bakr ini adalah kabilah dimana Rosulullah pernah menyusui.Sedangkan Bani Ka’ab dan Bani Kilab menentang Kaum Hawazin dan bergabung bersama Rosulullah.

            Mereka disertai pula seorang bernama Duraid bin Ash-Shammah, pemimpin dan orang termuka di kalangan Bani Jutsam. Dia dikenal sebagai seorang tua yang pemberani dan berpengalaman. Usianya saat itu sudah 120 tahun, bahkan ada yang mengatakan lebih. Dia juga buta sehingga dia hanya dimintai pendapat dan pengetauhuannya saja mengenai perang. Adapun panglima kaum Tsaqif saat itu adalah Kinanah bin ‘Abdu Yalil –yang dikemudian hari memeluk Islam –.

Kekuatan Musuh

Malik bin Auf, panglima perang, memerintahkan agar segala sesuatu dibawa saat perang seperti seluruh harta kekayaan, binatang ternak, kaum wanita dan anak-anak mereka dengan harapan agar pasukannya tetap tegar dan tidak lari meninggalkan medan perang. Namun Duraid tidak sependapat dan menyarankan agar mereka semua dipulangkan. Akan tetapi, Malik tidak menerima sarannya dan tetap menjalankan rencananya.

Prof. Muhamma Ridha menyebutkan bahwa jumlah orang yang terhimpun dari Bani Sa’ad dan Tsaqif ada 4.000 orang hingga selanjutnya mencapai 30.000 orang karena kabilah-kabilah Arab lainnya ikut bergabung. Ada pula yang mengatakan hanya 20.000 personil. Selain jumlah yang banyak, Kaum Hawazin dikenal sebagai pemanah yang ulung.

Kekuatan Kaum Muslimin

Di sisi lain, Jumlah pasukan Rosulullah SAW sebanyak 12.000 tentara, dimana 2.000 tentara dari penduduk kota Makkah yang baru saja masuk Islam dan sebagian dari mereka belum masuk Islam. Sedangkan 10.000 tentara berasal dari Madinah. Jumlahnya menjadi sangat banyak sehingga orang muslimin (ada yang mengatakan Abu Bakar yang mengatakan) berkata, “ Hari ini kita tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit”.

Dalam persiapan menghadapi peperangan ini, dikatakan kepada Rosulullah bahwa Shafwan bin Umayyah – yang waktu itu masih musyrik – memiliki sejumlah baju besi dan senjata. Akhirnya Shawan meminjamkan kepda Rosulullah seratus baju besi dan sejumlah senjata.

Rosulullah pergi meninggalkan Makkah pada hari Sabtu, 6 Syawwal 8 H atau 28 Januari 630 M.

Ada yang berkendaraan serta ada juga yang berjalan kaki. Bahkan kaum wanita dan orang-orang ayng belum sempurna Islamnya juga ikut. Saat itu beliau mempercayakan Makkah keapda Uttab bin Usaid bin Al-Ish yang saat itu muda. Adapun untuk menjadi guru, beliau tinggalkan di Makkah Mu’adz bin Jabal Al-Anshari Al-Khazraji untuk mengajari mengenai ukum dan syariat Islam karena dia adalah orang yang pandai membaca Al-Qur’an dan sangat mendalam ilmu agamanya.

Syaikh Mubarakfuri dalam bukunya menulis bahwa di tengah perjalanan, pasukan muslimin melihat pohon bidara besar yang biasa digunakan orang-orang Arab untuk menggantungkan senjatanya dan menyembelih kurban di dekatnya. Pohon tersebut biasa disebut Dzatu Anwath. Sebagian kaum muslimin berkata kepada Rosulullah SAW,”Buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath”

Maka Rosulullah SAW bersabda,” Allah Maha Besar, sungguh kalian telah mengatakan seperti yang dikatakan kaum Nabi Musa: “ Buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala). Musa menjawab, “ Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan). Itu adalah jalan kehidupan. Kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.” Karena melihat banyaknya jumlah pasukan, sebagian dari kaum muslimin berkata, “ Kali ini kita tidak mungkin bisa dikalahkan.” Perkataan tersebut justru membebani Rosulullah. Pada petang harinya, datanglah salah seorang penunggang kuda memberi tahu Rosulullah bahwa Hawazin telah berangkat dengan membawa unta dan hewan ternak mereka. Beliau tersenyum dan berkata, “Itu adalah harta rampasan (ghanimah) milik kaum muslimin besok hari, Insya Allah..”

Pertempuran berkecamuk

images (2)

Setelah mengetahui keberangkatan Rosulullah, Malik segera menempatkan pasukannya di lembah Hunain dan meyebarkan mereka di lorong persembunyian lembah guna melancarkan serangan mendadak dan serempak. Semua ini atas petunjuk Duraid.

Ketika Rosululah sampai di Hunain, lalu menuruni lembah dan waktu itu masih gelap, kaum musyrikin mendadak melancarkan serangan dari berbagai lorong dan tempat persembunyian lembah sehingga kuda-kuda mereka berlarian dan orang-orang pun mundur tunggang langgang. Sehingga secara umum, pasukan kaum Muslimin menderita kekalahan,

Mengetahui hal itu, kaum musyrikin begitu bergembira. Abu Sufyan kemudian berkata,”Kekalahan mereka tidak akan sampai ke Laut (Laut Merah).

Sementara itu, Rosulullah minggir ke arah kanan kemudian memanggil dengan suara keras, “Kemarilah, wahai Hamba-Hamba Alloh!Sesungguhnya, aku seorang Nabi yang tidak berdusta. Aku adalah putra (cucu) Abdul Muthalib.”

Abu Sufyan Ibn Al-Harits segera memegangi tali kendali baghal Rosulullah dan Al Abbas memegangi pelananya berusaha menahannya agar tidak terburu-buru melesat ke arah musuh. Belaiu pun turun dari baghal itu, allu berdoa dan memohon portolongan Allah.

Rosulullah SAW kemudian memerintahkan Al-Abbasm orang yang suaranya paling keras untuk menyeru para sahabat. Al Abbas berteriak dengan suara kerasnya, “ Wahai Assh-habus Samroh! (para sahabat yang pernah melakukan Baiat Ridwan padda tahun Hudaibiyah”.

Abbas berkata, “Demi Alloh, begitu endengar teriakan itu, mereka segera kembali seperti sapi yang datang memenuhi panggilan anaknya, seraya berkata,”Kami sambut seruanmu, kami sambut seruanmu!” Hingga akhirnya terkumpul sekitar seratus orang yang siap menerjang musuh dan berperang mempertaruhkan nyawa.

Seruan seperti itu kemudian juga ditujukan kepada kalangan Anshar dan Bani Al-Harits ibn Al-Khazraj. Maka bergabunglah berbagai pasukan satu demi satu. Sehingga di sekeliling Rosulullah SAW terhimpun sekumpulan pasukan kaum muslimin dalam jumlah besar.

Allah menurunkan ketenangan kepada Rosulullah dan orang-orang beriman. Allah juga menurunkan bala tentara yang tidak terlihat secara kasat mata. Pasukan Muslimin pun kembali berlaga di medan perang dan peperangan pun berkobar kembali. Rosulullah berkata, “Authas telah berkecamuk”.

Beliau kemudian memungut segenggam pasir dan melemparkannya ke arah wajah pasukan musuh seraya berseru, “ Terhinalah wajah kalian”. Sementara dalam Kitab Sirah Nabawiyah Karangan Dr. Al-Buthy seruan Rosulullah berbunyi,”Musnahlah kalian demi Rabb Muhammad”.

Kemudian, kedua mata kaum musyrikin menjadi dipenuhi debu dan mereka pun mundur serta melarikan diri. Kaum muslimin lalu mengejar pasukan musuh dan membunuh serta menawan kaum musyrikin, termasuk wanita dan anak-anak mereka. Ada sebagian kaum muslimin yang membunuh anak-anak musuh, maka Rosulullah kemudian melarang membunuh anak-anak dan wanita.

Dalam perang ini, Duraid bin Ash-Shammah terbunuh sementara Khalid bin Al Walid menderita luka-luka yang cukup parah. Tatkala musuh mengalami kekalahan, beberapa orang kafir Makkah menyatakan diri masuk Islam.

Continue reading

Pakaian sebagai Anugerah Allah: Sebuah kajian Tafsir Al-A’raf 26


IMEJ

pic taken from http://dyanfitrisupriyadi.wordpress.com/

Bismillahirrohmanirrohiim..

Dalam Kitab Suci Muslim Sedunia pada Surat Al- A’raf ayat 26 termaktub firman-Nya.

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa[531] Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.          

 Asbabun Nuzul

            Allah Ta’ala memerintahkan kepada Anak Adam (manusia) untuk waspada terhadap Iblis dan golongannya dari setiap godaannya untuk mengumbar aurat.

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya… (QS. Al-A’raf : 27)

Dalam ayat ke-27 Surat Al-A’raf di atas, Allah memberi peringatan dan pembelajaran kepada Anak Adam (manusia) atas peristiwa diusirnya Adam dan Hawa dari surga akibat melanggar larangan Allah. Mereka memakan buah dari pohon yang diharamkan Allah akibat terkena bujuk rayu Iblis dan setelah keduanya memakan buah dari pohon tersebut, maka nampaklah aurat keduanya. Akibat rasa malu Adam dan Hawa, maka keduanya menutup aurat mereka dengan dedaunan surga. Kisah ini difirmankan Allah dalam Surat Al-A’raf ayat 19-22.

Melalui peristiwa itu, maka Allah menurunkan pakaian sebagaimana firman Allah dalam ayat 26 surat Al-A’raf, untuk menutupi aurat sehingga terjaga dari syahwat yang menuju kemaksiatan. Selain itu, pakaian juga berfungsi untuk perhiasan yang memperindah fithrah manusia.

Ibnu Katsir menuliskan dalam bukunya, Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali r.a. mendengar ungkapan dari Rasulullah SAW ketika berpakaian, beliau berkata,”Segala puji bagi Allah yang menganugerahkan kepadaku pakaian dari bulu yang kugunakan untuk bergaya di antara manusia dan untuk menutupi auratku”.

Dalam kitab tafsir Al-Maraghi yang ditulis oleh Ahmad Mustafa Al-Maraghi dijelaskan, bahwa setelah Allah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga untuk turun ke bumi, menjadikan bumi sebagai tempat tinggal mereka, dan setan adalah musuh mereka berdua, Allah menurunkan pula bagi Adam dan keturunannya segala kebutuhannya dalam urusan dunia dan agama, seperti pakaian yang digunakan sebagai penutup aurat dan perhiasan. Juga pakaian yang mereka gunakan dalam perang, seperti baju-baju dan rompi-rompi besi dan lain sebagainya.

Selain itu, ayat ini juga sebagai seruan kepada masyarakat Arab di masa lampau, selain kabilah Quraisy, yang kerap melakukan thawaf di Baitullah dengan tanpa menggunakan pakaian. Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa masyarakat Arab, selain kabilah Quraisy, dianggap sebagai orang musyrik, sehingga mereka tidak diperbolehkan melakukan thawaf dengan pakaian yang mereka gunakan sebelumnya karena pakaian tersebut telah digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Hanya kaum Quraisy, biasa disebut Kaum Hamas atau Humus (menurut Sayyid Quthb), saja yang boleh melakukan thawaf dengan pakaian mereka. Barangsiapa di antara orang Arab itu dipinjami pakaian oleh orang Hamas, maka dia boleh berthawaf dengan pakaian itu. Dan barangsiapa yang memiliki pakaian baru, maka dia juga diperbolehkan bertawaf dengannya tetapi setelah itu ia harus membuangnya dan tidak boleh ada seorang pun yang memilikinya. Barangsiapa yang tidak mempunyai baju baru dan tidak dipinjami oleh orang Hamas, maka dia berthawaf tanpa berpakaian. Barangkali wanita pun juga berthawaf tanpa berpakaian dan menutup kemaluannya secara ala kadarnya. Pada umumnya wanita berthawaf pada malam hari. Sebenarnya, perbuatan ini merupakan rekayasa berdasarkan dorongan nafsu mereka saja dan hanya mengikuti perbuatan nenek moyangnya.

Sayyid Quthb menjelaskan dalam buku tafsirnya bahwa hal ini terjadi karena realitas Jahiliyah Arab. Masyarakat Quraisy telah menciptakan hak-hak bagi dirinya atas orang-orang musyrik Arab lainnya yang datang untuk melakukan haji. Mereka mengemas hak-hak tersebut dalam aturan-aturan yang mereka klaim sebagai syariat Allah. Di antara hak-hak tersebut adalah ketentuan bahwa mereka saja yang berhak berthawaf dengan berpakaian, sedangkan orang Arab lainnya hanya boleh berpakaian apabila menggunakan baju baru atau baju yang dipinjami Hamas.

 Kemudian Allah menolak perbuatan mereka itu sebagaimana firman Allah dalam ayat ke 28 Surat Al-A’raf.  “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu dan Allah menyuruh kamu mengerjakannya. “Katakanlah, ”Sesungguhnya Allah tidak menyuruh perbuatan keji. Allah kemudian menegasikan pernyataan pernyataan mereka dari diri-Nya, lalu Allah berfirman,”Mengapa kamu mengada-ada terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui, yakni mengapa kamu menyandarkan kepada Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui kesahihannya.”

Tafsir Ayat

           Berbicara mengenai kronologis kisah dianugerahkannya pakaian oleh Allah kepada Bani Adam dalam ayat ke-26 surat Al-A’raf sebenarnya tidak terlepas dari ayat 19-22 dan 26-28 dalam surat tersebut. Akan tetapi, dalam kesempatan kali ini, penulis akan mempersempit ruang lingkup penafsiran, yaitu ayat 26 saja.

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan…

Sayyid Quthb menuliskan dalam bukunya, Kata libas terkadang digunakan untuk arti sesuatu yang menutupi kemaluan, dan itu berarti pakaian dalam. Al-Maraghi justru menggabungkan kata libaasuttaqwaa dan mengartikannya sebagai baju-baju besi, rompi-rompi besi, topi baja atau lainnya yang dipakai untuk melindungi diri dari perang. Sementara kata risyan terkadang berarti sesuatu yang digunakan untuk menutupi tubuh dan berdandan dan itu berarti pakaian luaran. Sebagaimana kata risyan digunakan untuk arti kehidupan yang nyaman, nikmat, dan harta benda. Sedangkan Al- Maraghi juga memberti arti kata risyan yang tidak terlalu berbeda, yaitu sebagai pakaian harian maupun hiasan.

Ibnu Katsir menulis dalam buku tafsirnya,” Pakaian untuk menutupi aurat yaitu perkara yang dianggap buruk bila terlihat. Perhiasan ialah perkara untuk keindahan lahiriah. Yang pertama merupakan kebutuhan primer dan yang kedua sebagai kebutuhan sekunder”. Sayyid Quthb menafsirkan,”seruan untuk menutup aurat dengan pakaian merupakan nikmat Allah kepada manusia. Allah mengajari, memudahkan, dan mensyari’atkan  pada mereka pakaian untuk menutup aurat yang terbuka. Fungsi lain adalah sebagai hiasan dan keindahan, menggantikan pemandangan buruk ketelanjangan”.

Al-Maraghi menyebutkan bahwa anugerah Allah berupa pakaian bermacam-macam tingkat dan kualitasnya, dari sejak pakaian rendah yang digunakan untuk menutup aurat, sampai dengan pakaian yang paling tinggi, berupa perhiasan-perhiasan yang menyerupai bulu burung dalam memelihara tubuh dari panas dan dingin, di samping merupakan keindahan dan keelokan.

Adapun Al-Maraghi menafsirkan makna  “diturunkan dari langit” adalah diturunkannya bahan berupa kapas, wool bulu sutera, bulu burung dan lainnya yang ditimbulkan oleh kebutuhan, dan manusia terbiasa memakainya, setelah mereka mempelajari cara-cara membuatnya, berkat naluri dan sifat yang diberikan oleh Allah.  Selain itu, bahwa Allah menganugerahkan pakaian kepada manusia menunjukkan bahwa perintah Allah melalui Isalam bersifat fithrah termasuk juga menyukai perhiasan dan keindahan juga merupakan naluri manusia.

…. â¨$t7Ï9ur 3“uqø)­G9$# y7Ï9ºsŒ ׎öyz 4 š   …

Dan pakaian takwa itulah yang paling baik…

Dalam bukunya, Ibnu Katsir menulis, “Para mufassir berikhtilaf mengenai makna penggalan ini. Akramah berkata bahwa pakaian takwa ialah busana yang dipakai oleh orang-orang takwa pada hari kiamat. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Ada pula yang mengartikannya sebagai pakaian keimanan atau sholeh atau tanda kebaikan di wajah. Semua pengertian tersebut hampir sama maknanya.

Sayyid Quthb menafsirkan penggalan ayat tersebut, “Abdur Rahman bin Aslam berkata,”Bertakwa kepada Allah lalu menutup auratnya, dan itulah pakaian takwa”.” Ada korelasi antara pensyari’atan  pakaian oleh Allah untu menutup aurat dan perhiasan dengan takwa. Keduanya sama-sama pakaian. Takwa menutup aurat hati dan menghiasinya, sementara pakaian menutup aurat tubuh dan menghiasinya. Hubungan keduanya sangat lekat. Jadi, dari perasaan takwa dan malu kepada Allah lahir penilaian buruk terhadap ketelanjangan tubuh dan rasa malu terhadapnya. Barangsiapa tidak malu dan tidak bertakwa kepada Allah, maka ia tidak peduli apakah telanjang atau mengajak telanjang,telanjang dari rasa malu dan takwa serta telanjang dari pakaian dan membuka aurat.

Dalam Tafsir Al-Maraghi disebutkan, bahwa pendapat para mahsyur dari para tabi’in ialah bahwa yang dimaksud Libasut-taqwa ialah pakaian ma’nawi, bukan pakaian kongkrit. Sedang menurut riwayat Ibnu Abbas, yang dimaksud ialah iman dan amal shaleh, karena iman dan amal shaleh itu lebih baik dari perhiasan-perhiasan pakaian. Selain itu, menurut riwayat Zaid bin Ali bin Al-Husain, yang dimaksud ialah pakaian perang, seperti baju perang rompi besi dan alat-alat lain yang digunakan untuk memelihara diri dari serangan musuh. Pendapat ini dipilih oleh Abu Muslim Al-Asfahani, karena hal itu ditunjukkan dalam Surat An-Nahl ayat 81.

Ÿ@‹Î/ºuŽ|  ãNà6‹É)s? §ysø9$# Ÿ@‹Î/ºty™ur Oä3ŠÉ)s? öNà6y™ù’t/ 4

…pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan…

 šÏ9ºsŒ ô`ÏB ÏM»tƒ#uä «!$# óOßg¯=yès9 tbr㍩.¤‹tƒ ÇËÏÈ

.. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat…

Ibnu Katsir berpendapat, Allah mengingatkan manusia akan nikmat-Nya saat mensyariatkan pakaian dan penutupan aurat, agar tidak sama dengan binatang yang telanjang. Allah juga memberi kemampuan kepada manusia untuk berpakaian karena Allah telah memudahkan sarana bagi mereka.

Al-Maraghi meyebutkan bahwa kenikmatan berupa diturunkannya pakaian, petunjuk yang menunjukkan kebajikan dan anugerah-Nya oleh Allah menjadikan mereka pandai mengingat anugerah tersebut, bersyukur atasnya bahkan menjauhkan diri dari godaan setan dari menampakkan aurat dan berlebihan dalam berhias.

 Refleksi

Allah melalui firman-Nya memberikan peringatan dan juga pembelajaran kepada Bani Adam bahwa setelah Allah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga untuk turun ke bumi, menjadikan bumi sebagai tempat tinggal mereka, dan setan adalah musuh mereka berdua, Allah menurunkan pula bagi Adam dan keturunannya segala kebutuhannya dalam urusan dunia dan agama, seperti pakaian. Pakaian tersebut merupakan anugerah dan nikmat Allah kepada manusia yang digunakan untuk menutup aurat dan perhiasan. Juga pakaian yang mereka gunakan dalam perang, seperti baju-baju dan rompi-rompi besi dan lain sebagainya. Selain itu, Allah juga menurunkan bahan pakaian berupa kapas, wool bulu sutera, bulu burung dan lainnya. Akan tetapi, pakaian yang terbaik adalah Libasut-taqwa atau pakaian takwa yang berarti iman dan amal sholeh karena iman dan amal shaleh itu lebih baik dari perhiasan-perhiasan pakaian. Bukankah sudah seharusnya kita bersyukur, kawan. Allah telah mengenalkan dan menganugerahkan kepada kita sesuatu bernama pakaian. Maka dari itu, sebagai wujud rasa syukur, sudah sewajarnya lah kita mematuhi amanat dan perintah-Nya untuk menjaga kaidah dalam berpakaian, yaitu syar’i dan tidak berlebihan.

Wallahu’alam bisshowab.

Referensi

Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1992. Terjemah Tafsir Al-Maraghi Juz 7,8 dan 9. Semarang: Penerbit CV. Toha Putra Semarang.

Ar-Rifa’i, Syekh Usamah. 2008. Tafsirul Wajiz. Jakarta: Gema Insani.

Nasib ar-Rofa’i, Muhammad. 1410/1989 Masehi. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 2. Riyadh: Maktabah Ma’arif.

Quthb, Sayyid. 1402 H/ 1982 Masehi. Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an: Di bawah Naungan Al-Qur’an, Jilid-5. Kairo, Mesir: Darusy Syuruq.

NB: Tulisan ini disusun sebagai salah satu tugas kuliah penulis.

Al Manar,3 Januari 2014


Hei kawan, jika kau ingin tahu tentang hakikat takdir dan menjadi ikhlas karena nya, renungkan hal ini.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim,

Rosulullah SAW bersabda:

Hendaklah kamu melakukan perkara yang mendatangkan manfaat kepada kamu dan mintalah pertolongan kepada Allah. Janganlah kamu mudah merasa lemas atau malas. Sekiranya musibah menimpa kamu maka janganlah kamu berkata,”kalaulah dulu aku lakukan begitu,tentu ia akan jadi begini”, tetapi katakanlah,”Allah telah menentukan dan setiap yang dikehendaki-Nya akan dilakukan-Nya. Lantaran kerana perkataan “kalau” akan membuka peluang kepada syetan.

Terimalah setiap pilihan yang Allah jatuhkan padamu ataupun yang kau pilih atas takdirnya. Be thankful and regret nothing. 🙂

Wallahua’alam bisshowab.

Kembang api:Pesta atau Perang?


Well. Kata apa yang dapat kamu sebutkan jika aku mengucapkan “New Year Eve“? Kebanyakan dari kita mungkin akan menyebut pesta pergantian tahun, resolusi, jalanan macet, dan absolutely kembang api atau lebih tepatnya kusebut happy crackers. Sebuah laman bertajuk Customs and Excise melansir :
“Happy crackers adalah petasan yang memiliki kembang api, yang dapat meledak seperti petasan tapi sekaligus mengeluarkan kembang api yang berwarna warni dan biasanya dipergunakan di malam hari.”

Yah. Sebuah pesta pergantian tahun tentunya ga akan pernah jauh-jauh dari yang namanya happy crackers ini. Karena fenomena yang kulihat, happy crackers ini digunakan sebagai ceremony puncak perayaan tahun baru. Klimaks acara. Tapi yakinkah bahwa euforia ini menghibur semua pihak? Karena bukankah itu esensi dari sebuah pesta?

Udah beberapa tahun terakhir ini aku ga pernah kemakan euforia pesta perayaan tahun baru and i feel blessed for it. 🙂 Paling banter ngumpul sama keluarga, bakar2 ikan, jagung tapi ga (bakalan) bakar uang pake happy crackers. Jadi ya begitulah, aku tidur seperti biasanya dong, pukul 22.00 an. Dan tiba-tiba semalem jam 23.30 an aku terbangun dengan jantung berdegup karena mendengar suara dentuman yang kenceng banget. Ternyata suara dentuman itu berasal dari happy crackers yang dinyalain tetangga seberang  jalan. Ada 3 ruas jalan lah yang memisahkan rumah kami. Jaraknya kurang lebih 100 meter. Dan masyaAllah, suaranya kenceng banget. Jauuh lebih kenceng dibanding tembakan SSBC waktu samapta dulu. Ga ada apa2nya kalo dibandingin. Dan beberapa menit stelahnya, waktu kulongok melalui jendela kamar,yang terlihat cuma kabut putih. Jalanan bahkan di dalam rumah dipenuhi kabut putih berbau mesiu. Suara dan suasananya mencekam. Kejadian ini berlangsung setengah jam mpek satu jam kira-kira. Non stop terdengar suara dentuman bertubi2. Orang rumah ga ada yang berani keluar rumah untuk melihat langit dan menikmati indahnya kembang api karena yang terlihat dari jendela hanya kabut putih.

Dan sedihnya, ada seorang mbah2 tetangga sbelah sedang sakit menahun,kabarnya hanya bisa tidur dan ga bisa bangun. Bisa dibayangin ga gimana perasaan dan keadaanny simbah ini?Lhawong saya yang (alhamdulillah) sehat saja deg-deg an mulu dengar suaranyag Nah,kalo udah kayak gini,apa masih bisa disebut pesta? Atau justru perang? Karena jauh dari kesan menyenangkan,malah justru mengancam..

Masih dari laman tentang Customs dan Excise disebutkan,
“Petasan dan happy crackers dilarang di Indonesia, alasannya karena barang ini berpotensi menyebabkan kebakaran, mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat dalam bentuk polusi udara. Sejak tahun 1977, produksi dan impornya dilarang sepenuhnya.”

Penjelasan dari sisi syariat Islam,dapat dibaca di blog ini.
http://bu4tbl0gb4ru.blogspot.com/2013/06/hukum-bermain-petasan.html?m=1

Wallahu’alam bisshowab. Mari bersama-sama kita benahi kekacauan paham di masyarakat kita. Selamat tahun baru Masehi 2014. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat. Amin.

*posting dilakukan lewat layar ukuran 3,5 ” di layar hp,mohon dimaklumi jika masih berantakan dan no pic

Petuah Lebaran


Based on the true story

Sayang, aku ingin menceritakan padamu tentang nenekmu yang teramat kau rindukan itu. Kisah ini terjadi 3 tahun lalu ketika ibumu ini pulang ke kampung halaman untuk libur lebaran.

imagesWaktu itu, kulihat nenekmu tak terlihat menyiapkan baju baru sebagaimana ibu-ibu lain repot memamerkan baju barunya. Ia malah terlihat repot sedang menyiapkan belasan bungkusan dalam kantong kresek. Isinya banyak. Satu kantong kresek berisi pelbagai macam jajanan lebaran. Belum lagi sepaket baju koko lengkap dengan sarungnya.”Itu buat siapa buk?”, aku bertanya pada nenekmu. “Untuk pakde-pakde dan bude-bude mu nduk.”

Lalu aku melirik ke daster yang dikenakan nenekmu. Tampak robek di bagian ketiak nya hingga harus ditutupi dengan jilbab menjuntai. Kulihat meja ruang tamu pun masih tampak kosong akan toples-toples kue lebaran, tak seperti biasa.

Ketika kutanya,”lha ibuk gak beli?”. Nenekmu menjawab, “Sing penting uwong nyandang,masalah ibukmu kari ae nduk“.

“Tidak sempurna iman seseorang itu selagi dia tidak mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim) 

“Terima kasih Ya Rahman, telah menganugerahkan kekasih-Mu untuk menjadi malaikatku di dunia.” 

*Cerita ini dikisahkan ibu kepada anaknya yang baru berumur 1 tahun 1 bulan. 3 tahun yang akan datang.